Namanya Pak Bronto. Lelaki setengah baya itu bertubuh tinggi besar dan brewokan. Ia tinggal di rumah di seberang jalan, di depan rumah Iwan. Beberapa tahun lalu, ia melakukan kejahatan yang kemudian membuatnya terjeblos dalam penjara. Merampok! Dan dua hari lalu ia bebas.
Iwan merasa was-was. Ketika Ayah masih berada di kantor, di rumah ia hanya tinggal bersama Ibu dan Mbok Nah. Tapi sekarang Ibu dan Mbok Nah pergi ke desa, menengok Nenek yang sedang sakit. Mungkin lusa baru pulang. Jadi sekarang ini di rumah ia sendirian. Jika Pak Bronto punya niat jahat, apa yang bisa ia perbuat? Konon, dalam melakukan kejahatannya, Pak Bronto tak segan-segan berlaku kasar kepada korbannya. Iwan makin merasa takut saja kepada lelaki itu.
Siang itu sepulang sekolah, Iwan langsung ke rumah Totok. Ia baru akan pulang sore hari, setelah Ayah pulang kerja.
"Kalau Pak Bronto punya niat jahat, bukankah tindakanmu ini justru membuatnya leluasa melakukan kejahatan di rumahmu?" kata Mas Bagong, kakak Totok. "Menurut Kakak, lebih baik kamu pulang saja. Tunggui rumah. Jika tidak berani, biar Kakak yang menemani. Jangan takut. Jika Pak Bronto macam-macam, biar Kakak yang menghadapinya!"
Ucapan Mas Bagong sangat menyakinkan Iwan. Nampaknya kakak teman sebangkunya itu memang bisa diandalkan. Selain tubuhnya juag tinggi besar, Mas Bagong jago karate. Kata Totok, sekarang ini kakaknya itu sudah menyandang sabuk hitam. Sabuk tingkat tertinggi dalam seni beladiri.
"Kenapa kamu berpikiran begitu pada Pak Bronto?" tanya Ayah, setelah mendengar alasan Iwan yang takut tinggal di rumah hanya bersama Ibu dan Mbok Nah. "Kekhawatiran kamu itu sangat berlebihan. Pak Bronto memang pernah melakukan kejahatan, tapi apa karena itu Pak Bronto harus selalu dicurigai? Siapa tahu Pak Bronto sekarang sudah berubah."
"Benar, Wan," sahut Ibu. "Kita tak boleh menilai seseorang hanya dari masa lalunya."
Iwan hanya diam. Dalam hati membenarkan ucapan Ayah dan Ibu. Tapi entah kenapa rasa takut kepada Pak Bronto masih saja menghinggapi perasaannya.
Seperti kemarin, siang itu Iwan ditemani Mas Bagong menunggui rumah. Sementara Ibu dan Mbok Nah masih di rumah Nenek.
Sebuah mobil box berhenti di depan rumah Iwan. Dua orang lelaki keluar dari mobil itu dan masuk ke rumah Iwan. Kepada Mas Bagong mereka mengaku dari sebuah perusahaan elektronik. Kedatangan mereka untuk mengenalkan produk terbaru perusahaannya.
"Mari silakan masuk," kata Mas Bagong kepada dua lelaki itu.
Dan ... Baru beberapa langkah mereka memasuki ruang tamu, tiba-tiba salah seorang menyergap Mas Bagong dari belakang sambil menyumbat mulut dan hidung Mas Bagong dengan saputangan. Hanya sesaat Mas Bagong berontak, sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri. Orang itu membius Mas Bagong dengan obat bius.
"Diam jika ingin selamat!" bentak temannya sambil menempelkan ujung belati di leher Iwan. Anak itu pun terkencing di celana. Dan ia pun tak tahu apa yang terjadi kemudian, setelah dengan cepat orang yang mengancamnya membekap hidungnya dengan saputangan berobat bius.
Ketika siuman, Iwan mendapati dirinya terbaring di ranjang kamarnya. Wajahnya kebingungan. Nampak Ayah duduk di tepi ranjang dan ... Pak Bronto duduk di kursi di dekat Ayah.
"Kenapa saya?" gumamnya.
"Mereka telah membuatmu pingsan," jawab Ayah. "Untung ada Pak Bronto. Jika tidak, habislah seluruh isi rumah kita."
"Tadi ketika Bapak pulang dari pasar," sahut Pak Bronto, "Bapak melihat mobil di depan rumah Iwan. Seoerang lelaki yang tidak Bapak kenal keluar dari rumah Iwan sambil membawa televisi dan menaruhnya ke dalam mobil di luar. Bapak jadi curiga. Lalu Bapak menyusul orang itu masuk ke dalam rumah Iwan. Ketika Bapak bertanya kenapa mengeluarkan barang di rumah Iwan, bukannya menjawab, lelaki itu dibantu temannya langsung menyerang Bapak. Untuk Bapak bisa membela diri. Mereka berhasil Bapak ringkus. Rupanya mereka bermaksud merampok ..."
Sekarang Iwan ingat semuanya. "Bagaimana dengan Mas Bagong?"
"Dia sudah dibawa ke kantor polisi," jawab Ayah."Ketika kedua orang itu hendak dibawa ke kantor polisi, mereka mengaku bahwa semua itu mereka lakukan atas inisiatifnya Bagong ..."
Iwan sungguh tidak menyangka. Orang yang dianggapnya baik, ternyata malah berbuat jahat. Sebaliknya, orang yang selama ini dicurigainya, justru akhirnya menjadi penolongnya. Iwan merasa malu telah berprasangka buruk kepada Pak Bronto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar