Sudah lama Iwan ingin bisa mengendarai motor. Itu karena ia sering melihat anak-anak sebayanya mengendarai motor. Nampak olehnya betapa menyenangkan jika bisa mengendarai motor. Kalau ingin kemana-mana tinggal tarik gas dan ... sampai di tempat tujuan! Tidak perlu capek-capek seperti naik sepeda.
Tapi, ketika meminta Ayah untuk mengajarinya, Ayah menolaknya. Alasannya, Iwan masih kecil. Berbahaya jika mengendarai motor. Berbahaya bukan untuk keselamatan dirinya saja, tapi juga berbahaya untuk keselamatan orang lain.
"Tapi kenapa Toni dan Yoyok oleh orangtuanya boleh mengendarai motor? Usia mereka kan sebaya dengan saya," jawab Iwan.
"Sudah, jangan membantah! Ayah melarangmu naik motor, itu karena Ayah sayang sama kamu. Ayah tak ingin kamu mendapat celaka."
Sejak itu, Iwan tak pernah lagi meminta Ayah untuk mengajari naik motor.
Pulang sekolah, Iwan melihat motor Ayah di teras. Ia heran. Sambil bertanya-tanya dalam hati, ia masuk ke dalam rumah. Nampak olehnya Ayah sedang tidur di kamarnya. Kenapa Ayah sudah pulang? Biasanya Ayah pulang lebih awal dari pekerjaannya karena tidak enak badan atau sakit.
Melihat Ayah tidur nyenyak, timbul ide di benak Iwan. Ia pun mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur Ayah.
Tanpa mengganti pakaian seragam, ia mengeluarkan motor Ayah dan menuntunnya. Setelah kurang lebih sejauh 100 meter, ia berhenti di depan sebuah rumah. Nampak seorang anak sebaya Iwan tengah duduk-duduk di kursi teras. Iwan mendekatinya.
"Ton, ajari aku naik motor, ya," katanya kepada anak itu. Namanya Toni, teman sekelas Iwan. "Cepat. Tadi motor ini kuambil waktu ayahku sedang tidur. Habis kalau bilang tidak boleh."
Karena tidak setuju dengan cara Iwan mengambil motor ayahnya, Toni tidak mau memenuhi keinginan Iwan. Tapi karena Iwan terus merengek-rengek, Toni jadi tidak tega untuk tidak mengajari teman sebangkunya itu naik motor. Maka, keduanya pun segera pergi dengan motor Ayah dan sebentar kemudian tiba di sebuah lapangan sepakbola terbuka.
"Untuk amannya, kamu start-nya langsung pakai gigi dua," kata Toni mulai mengajari Iwan. Ia duduk di boncengan. "Kalau pakai gigi satu bahaya. Tarikannya kan kencang sekali. Lalu pelan-pelan tarik gas ..."
Meski laju motor yang dikendarai jalannya tersendat-sendat, Iwan sangat menikmatinya. Baru kali ini ia mengendarai motor. Ia sangat gembira!
"Sudah, ya," kata Iwan, setelah berputar-putar mengelilingi lapangan beberapa kalii. "Kita pulang ya. Aku takut nanti ayahku keburu bangun."
Toni dan Iwan kembali berboncengan di atas motor. Dan setiba di depan rumah Toni, Iwan menuntun motor Ayah menuju ke rumahnya. Ia masih belum berani mengendarai motor seorang diri.
Iwan memarkir motor Ayah di tempat semula. Ketika akan masuk rumah, pintu terkunci. Saat itulah Bu Indar, tetangga sebelah menghampirinya.
"Dari mana saja kamu, Wan?" tanyanya. "Jadi motor ini kamu yang bawa?"
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Kamu ini gimana, tadi itu ayahmu mengira motor ini ada yang mencuri. Makanya sekarang ayahmu ke kantor polisi untuk melaporkannya."
Iwan terkejut dan takut. Terbayang di benaknya akan kemarahan Ayah. Dengan hati berdebar-debar, ia menunggu kepulangan Ayah di kursi teras. Tak lama kemudian Ayah pulang. Beliau terkejut melihat motornya ada di teras.
"Maafkan saya, Yah. Yang membawa motor tadi Iwan." .
Ayah gembira sekaligus marah. "Kenapa kamu tidak bilang terlebih dulu?!"
Iwan pun mengatakan alasannya kenapa ia mengambil motor Ayah secara diam-diam.
"Iwaaan Iwan, kami ini! Sudah Ayah bilang kamu belum boleh naik motor! Kalau kamu dapat celaka gimana!? Ayah juga yang susah ..."
"Maaf, Yah ..."
"Sudah! Sekarang ambilkan helm, Ayah harus ke kantor polisi lagi untuk membatalkan laporan Ayah!"
Iwan memandangi kepergian Ayah dengan rasa bersalah.