Translate

Jumat, 28 Juni 2013

Ketika Ayah Kehilangan Motor

Sudah lama Iwan ingin bisa mengendarai motor. Itu karena ia sering melihat anak-anak sebayanya mengendarai motor. Nampak olehnya betapa menyenangkan jika bisa mengendarai motor. Kalau ingin kemana-mana tinggal tarik gas dan ... sampai di tempat tujuan! Tidak perlu capek-capek seperti naik sepeda.

Tapi, ketika meminta Ayah untuk mengajarinya, Ayah menolaknya. Alasannya, Iwan masih kecil. Berbahaya jika mengendarai motor. Berbahaya bukan untuk keselamatan dirinya saja, tapi juga berbahaya untuk keselamatan orang lain.

"Tapi kenapa Toni dan Yoyok oleh orangtuanya boleh mengendarai motor? Usia mereka kan sebaya dengan saya," jawab Iwan.

"Sudah, jangan membantah! Ayah melarangmu naik motor, itu karena Ayah sayang sama kamu. Ayah tak ingin kamu mendapat celaka."

Sejak itu, Iwan tak pernah lagi meminta Ayah untuk mengajari naik motor.

Pulang sekolah, Iwan melihat motor Ayah di teras. Ia heran. Sambil bertanya-tanya dalam hati, ia masuk ke dalam rumah. Nampak olehnya Ayah sedang tidur di kamarnya. Kenapa Ayah sudah pulang? Biasanya Ayah pulang lebih awal dari pekerjaannya karena tidak enak badan atau sakit.

Melihat Ayah tidur nyenyak, timbul ide di benak Iwan. Ia pun mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur Ayah.

Tanpa mengganti pakaian seragam, ia mengeluarkan motor Ayah dan menuntunnya. Setelah kurang lebih sejauh 100 meter, ia berhenti di depan sebuah rumah. Nampak seorang anak sebaya Iwan tengah duduk-duduk di kursi teras. Iwan mendekatinya.

"Ton, ajari aku naik motor, ya," katanya kepada anak itu. Namanya Toni, teman sekelas Iwan. "Cepat. Tadi motor ini kuambil waktu ayahku sedang tidur. Habis kalau bilang tidak boleh."

Karena tidak setuju dengan cara Iwan mengambil motor ayahnya, Toni tidak mau memenuhi keinginan Iwan. Tapi karena Iwan terus merengek-rengek, Toni jadi tidak tega untuk tidak mengajari teman sebangkunya itu naik motor. Maka, keduanya pun segera pergi dengan motor Ayah dan sebentar kemudian tiba di sebuah lapangan sepakbola terbuka.

"Untuk amannya, kamu start-nya langsung pakai gigi dua," kata Toni mulai mengajari Iwan. Ia duduk di boncengan. "Kalau pakai gigi satu bahaya. Tarikannya kan kencang sekali. Lalu pelan-pelan tarik gas ..."

Meski laju motor yang dikendarai jalannya tersendat-sendat, Iwan sangat menikmatinya. Baru kali ini ia mengendarai motor. Ia sangat gembira!

"Sudah, ya," kata Iwan, setelah berputar-putar mengelilingi lapangan beberapa kalii. "Kita pulang ya. Aku takut nanti ayahku keburu bangun."

Toni dan Iwan kembali berboncengan di atas motor. Dan setiba di depan rumah Toni, Iwan menuntun motor Ayah menuju ke rumahnya. Ia masih belum berani mengendarai motor seorang diri.

Iwan memarkir motor Ayah di tempat semula. Ketika akan masuk rumah, pintu terkunci. Saat itulah Bu Indar, tetangga sebelah menghampirinya.
 
"Dari mana saja kamu, Wan?" tanyanya. "Jadi motor ini kamu yang bawa?"

"Memangnya kenapa, Bu?"

"Kamu ini gimana, tadi itu ayahmu mengira motor ini ada yang mencuri. Makanya sekarang ayahmu ke kantor polisi untuk melaporkannya."

Iwan terkejut dan takut. Terbayang di benaknya akan kemarahan Ayah. Dengan hati berdebar-debar, ia menunggu kepulangan Ayah di kursi teras. Tak lama kemudian Ayah pulang. Beliau terkejut melihat motornya ada di teras.

"Maafkan saya, Yah. Yang membawa motor tadi Iwan." .

 Ayah gembira sekaligus marah. "Kenapa kamu tidak bilang terlebih dulu?!"

Iwan pun mengatakan alasannya kenapa ia mengambil motor Ayah secara diam-diam.

"Iwaaan Iwan, kami ini! Sudah Ayah bilang kamu belum boleh naik motor! Kalau kamu dapat celaka gimana!? Ayah juga yang susah ..."

"Maaf, Yah ..."

"Sudah! Sekarang ambilkan helm, Ayah harus  ke kantor polisi lagi untuk membatalkan laporan Ayah!"

Iwan memandangi kepergian Ayah dengan rasa bersalah.



Kamis, 27 Juni 2013

Musuh Dalam Selimut

Namanya Pak Bronto. Lelaki setengah baya itu bertubuh tinggi besar dan brewokan. Ia tinggal di rumah di seberang jalan, di depan rumah Iwan. Beberapa tahun lalu, ia melakukan kejahatan yang kemudian membuatnya terjeblos dalam penjara. Merampok! Dan dua hari lalu ia bebas.

Iwan merasa was-was. Ketika Ayah masih berada di kantor, di rumah ia hanya tinggal bersama Ibu dan Mbok Nah. Tapi sekarang Ibu dan Mbok Nah pergi ke desa, menengok Nenek yang sedang sakit. Mungkin lusa baru pulang. Jadi sekarang ini di rumah ia sendirian. Jika Pak Bronto punya niat jahat, apa yang bisa ia perbuat? Konon, dalam melakukan kejahatannya, Pak Bronto tak segan-segan berlaku kasar kepada korbannya. Iwan makin merasa takut saja kepada lelaki itu.

Siang itu sepulang sekolah, Iwan langsung ke rumah Totok. Ia baru akan pulang sore hari, setelah Ayah pulang kerja.

"Kalau Pak Bronto punya niat jahat, bukankah tindakanmu ini justru membuatnya leluasa melakukan kejahatan di rumahmu?" kata Mas Bagong, kakak Totok. "Menurut Kakak, lebih baik kamu pulang saja. Tunggui rumah. Jika tidak berani, biar Kakak yang menemani. Jangan takut. Jika Pak Bronto macam-macam, biar Kakak yang menghadapinya!"

Ucapan Mas Bagong sangat menyakinkan Iwan. Nampaknya kakak teman sebangkunya itu memang bisa diandalkan. Selain tubuhnya juag tinggi besar, Mas Bagong jago karate. Kata Totok, sekarang ini kakaknya itu sudah menyandang sabuk hitam. Sabuk tingkat tertinggi dalam seni beladiri.

"Kenapa kamu berpikiran begitu pada Pak Bronto?" tanya Ayah, setelah mendengar alasan Iwan yang takut tinggal di rumah hanya bersama Ibu dan Mbok Nah. "Kekhawatiran kamu itu sangat berlebihan. Pak Bronto memang pernah melakukan kejahatan, tapi apa karena itu Pak Bronto harus selalu dicurigai? Siapa tahu Pak Bronto sekarang sudah berubah."

"Benar, Wan," sahut Ibu. "Kita tak boleh menilai seseorang hanya dari masa lalunya."

Iwan hanya diam. Dalam hati membenarkan ucapan Ayah dan Ibu. Tapi entah kenapa rasa takut kepada Pak Bronto masih saja menghinggapi perasaannya.
  
Seperti kemarin, siang itu Iwan ditemani Mas Bagong menunggui rumah. Sementara Ibu dan Mbok Nah masih di rumah Nenek.

Sebuah mobil box berhenti di depan rumah Iwan. Dua orang lelaki keluar dari mobil itu dan masuk ke rumah Iwan. Kepada Mas Bagong mereka mengaku dari sebuah perusahaan elektronik. Kedatangan mereka untuk mengenalkan produk terbaru perusahaannya.

"Mari silakan masuk," kata Mas Bagong kepada dua lelaki itu.

Dan ... Baru beberapa langkah mereka memasuki ruang tamu, tiba-tiba salah seorang menyergap Mas Bagong dari belakang sambil menyumbat mulut dan hidung Mas Bagong dengan saputangan. Hanya sesaat Mas Bagong berontak, sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri. Orang itu membius Mas Bagong dengan obat bius.

"Diam jika ingin selamat!" bentak temannya sambil menempelkan ujung belati di leher Iwan. Anak itu pun terkencing di celana. Dan ia pun tak tahu apa yang terjadi kemudian, setelah dengan cepat orang yang mengancamnya membekap hidungnya dengan saputangan berobat bius.

Ketika siuman, Iwan mendapati dirinya terbaring di ranjang kamarnya. Wajahnya kebingungan. Nampak Ayah duduk di tepi ranjang dan ... Pak Bronto duduk di kursi di dekat Ayah.

"Kenapa saya?" gumamnya.

"Mereka telah membuatmu pingsan," jawab Ayah. "Untung ada Pak Bronto. Jika tidak, habislah seluruh isi rumah kita."

"Tadi ketika Bapak pulang dari pasar," sahut Pak Bronto, "Bapak melihat mobil di depan rumah Iwan. Seoerang lelaki yang tidak Bapak kenal keluar dari rumah Iwan sambil membawa televisi dan menaruhnya ke dalam mobil di luar. Bapak jadi curiga. Lalu Bapak menyusul orang itu masuk ke dalam rumah Iwan. Ketika Bapak bertanya kenapa mengeluarkan barang di rumah Iwan, bukannya menjawab, lelaki itu dibantu temannya langsung menyerang Bapak. Untuk Bapak bisa membela diri. Mereka berhasil Bapak ringkus. Rupanya mereka bermaksud merampok ..."

Sekarang Iwan ingat semuanya. "Bagaimana dengan Mas Bagong?"

"Dia sudah dibawa ke kantor polisi," jawab Ayah."Ketika kedua orang itu hendak dibawa ke kantor polisi, mereka mengaku bahwa semua itu mereka lakukan atas inisiatifnya Bagong ..."

Iwan sungguh tidak menyangka. Orang yang dianggapnya baik, ternyata malah berbuat jahat. Sebaliknya, orang yang selama ini dicurigainya, justru akhirnya menjadi penolongnya. Iwan merasa malu telah berprasangka buruk kepada Pak Bronto.